Adat Sayur Matua Dalam Budaya Batak Simalungun (Kajian Semiotika)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Adat Sayur Matua dalam Budaya Batak Simalungun (Studi Semiotik). Adat Sayur Matua dalam Budaya Batak Simalungun merupakan upacara penghormatan tertinggi bagi individu yang meninggal dalam keadaan sempurna (telah menikahkan semua anak-anaknya dan melihat cucu-cucunya), yang melambangkan kesempurnaan hidup dan kemenangan spiritual yang dirayakan dengan sukacita. Melalui teori semiotik Peirce, upacara ini dianalisis sebagai sistem tanda yang kaya, di mana berbagai unsur ritual seperti kain duka, musik gual, dan tarian tor-tor sombah berfungsi sebagai Representamen (tanda). Elemen-elemen ini diklasifikasikan sebagai Ikon (kemiripan fisik dengan status), Indeks (hubungan sebab-akibat yang menunjukkan tingkat upacara), dan terutama Simbol (konvensi budaya nilai-nilai), yang secara kolektif merujuk pada Objek dalam bentuk status sosial mulia almarhum dan nilai-nilai budaya mulia Simalungun. Interpretasi (Interpretant) yang muncul dari rangkaian tanda-tanda ini merupakan penegasan kembali nilai-nilai tanggung jawab, solidaritas kekerabatan, dan penghormatan terhadap leluhur, menjadikannya media komunikasi budaya yang efektif untuk meneruskan filosofi "Habonaron Do Bona Bona" (Kebenaran adalah dasar).
DOI :
https://doi.org/10.53565/pssa.v9i2.2484












