Analisis Makna Pakaian (Pahean) Adat Simalungun (Kajian Semiotika)

  • Win Theopani Saragih Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Indonesia
  • Jumaria Sirait Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar
  • Vita Riahni Saragih Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar
  • Marlina Agkris Tambunan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar
  • Immanuel Doclas Belmondo Silitonga Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar
Keywords: Pakaian tradisional Simalungun, semiotika Roland Barthes, makna budaya, nilai-nilai tradisional

Abstract

Penelitian ini berjudul “Analisis Makna Pakaian Tradisional Simalungun (Pahean) (Studi Semiotik)” bertujuan untuk menggambarkan makna denotatif dan konotatif serta lima kode Roland Barthes yang terdapat dalam pakaian tradisional Simalungun, serta mengeksplorasi nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Latar belakang penelitian ini adalah berkurangnya pemahaman generasi muda mengenai nama, fungsi, dan makna pakaian tradisional Simalungun sebagai warisan budaya regional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, dan studi literatur mengenai berbagai jenis pahean seperti gotong, bulang teget, hiou, baju soja, dan baju pandihar. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes, yang mencakup makna denotatif, makna konotatif, dan lima kode: hermeneutik, semantik, simbolik, proairetik, dan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian tradisional Simalungun mengandung makna simbolik yang mencerminkan identitas, etika, dan nilai-nilai spiritual masyarakat Simalungun. Setiap jenis pakaian mewakili nilai-nilai etika, estetika, sosial, dan agama yang erat kaitannya dengan pandangan dunia komunitas. Upaya pelestarian pahean harus difokuskan pada peningkatan pemahaman generasi muda melalui pendidikan, sosialisasi budaya, dan penggunaan media digital agar warisan budaya ini tetap terjaga di tengah gelombang modernisasi saat ini.

Author Biographies

Jumaria Sirait, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

 

Vita Riahni Saragih, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

 

Marlina Agkris Tambunan, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

 

Immanuel Doclas Belmondo Silitonga, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Pematangsiantar

 

Published
2025-12-23
DOI : https://doi.org/10.53565/pssa.v9i2.2389