Analisis Makna Parjambaran Adat Saur Matua Dalam Budaya Batak Toba (Kajian Semiotika)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk Analisis Makna Parjambaran Adat Saur Matua Dalam Budaya Batak Toba (Kajian Semiotika) . Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan tentang kajian semiotika parjambaran adat saur matua dalam budaya Batak Toba, maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut:Melalui pendekatan analisis semiotika terhadap parjambaran dalam acara adat saur matua pada masyarakat Batak Toba, dapat disimpulkan bahwa parjambaran memiliki makna simbolik yang sangat utama dan menjadi kedudukan di dalam dalihan natolu. Jambar (bagian/hak) menjadi wujud nyata dari relasi Manat, Somba, dan Elek dalam kehidupan Batak toba dan diwariskan secara turun-temurun.Perspektif semiotika, parjambaran tidak hanya berperan sebagai dalihan natolu tetapi untuk memperkuat ikatan sosial, menyalurkan berkat, melestarikan kearifan lokal, serta penghormatan kepada leluhur dan Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi parjambaran di dalam masyarakat Batak Toba memiliki hubungan yang erat, nilai-nilai yang ada di dalam pendidikan terhadap generasi muda, dan solidaritas yang kuat.Penggunaan teori semiotika menurut Charles Sanders Peirce pada acara parjambaran adat saur matua dalam budaya Batak Toba mengandung makna mendalam yang dapat dianalisis dan memiliki ikon kepala (ulu) bagian tubuh yang paling tinggi dan menjadi wibawa kehormatan, dan kedudukan tertinggi, indeks menunjukkan bahwa jambar yang mentah dibagikan sesuai porsi yang diatur sebagai ucapan terima kasih, sementara simbolnya jambar menjadi berkat kehidupan, memiliki tanggung jawab, dan memiliki solidaritas yang kuat. Acara adat saur matua dalam parjambaran menjadi cerminan nilai-nilai kebudayaan dan menjadi identitas Batak Toba.
DOI :
https://doi.org/10.53565/pssa.v9i2.2388












