Analisis Makna Ulos Pada Upacara Adat Saur Matua Budaya Batak Toba: (Kajian Semiotika)

  • Widya Adelita Malau Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar
  • Immanuel Doclas Belmondo Silitonga Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar
  • Vita Riahni Saragih Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar
  • Jumaria Sirait Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar
  • Widya Adelita Malau Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar
Keywords: Analisis Semiotika, Ulos, Adat Saur Matua, Batak Toba

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis semiotika ulos dalam upacara adat saur matua pada budaya Batak Toba. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan mengenai kajian semiotika ulos dalam upacara saur matua, dapat disimpulkan bahwa ulos memiliki makna simbolik yang sangat kuat dalam tatanan sosial, religius, dan budaya masyarakat Batak Toba. Pemberian ulos dalam saur matua bukan sekadar penutup tubuh, melainkan sarana komunikasi simbolik yang mengandung pesan tentang kehidupan, doa restu, solidaritas, dan penghormatan. Setiap jenis ulos yang digunakan, seperti ulos ragi idup serta motif-motif yang terdapat di dalamnya, mengandung makna yang diwariskan secara turun-temurun.Melalui semiotika Charles Sanders Peirce, makna ulos dapat dianalisis melalui tiga aspek utama: ikon tampak pada motif-motif tenunan yang menggambarkan alam, kehidupan, dan keteraturan; indeks terlihat dari fungsi ulos sebagai penanda tahapan kehidupan, seperti penyematan ulos ragi idup sebagai tanda doa dan penghormatan, serta ulos saput sebagai tanda kesempurnaan hidup yang dicapai, sementara simbol hadir dalam nilai-nilai yang dikandungnya, seperti solidaritas keluarga, penghormatan kepada leluhur, doa restu, serta identitas budaya Batak Toba

Author Biographies

Widya Adelita Malau, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Immanuel Doclas Belmondo Silitonga, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Vita Riahni Saragih, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Jumaria Sirait, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Widya Adelita Malau, Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

 

Published
2025-12-19
DOI : https://doi.org/10.53565/pssa.v9i1.2370