Transhumanisme Kurzweil dan Buddhisme Mahāyāna: Studi Komparatif Hakikat Diri, Kesadaran, dan Keselamatan
Abstract
Perkembangan teknologi mutakhir, khususnya kecerdasan buatan dan integrasi otak-komputer, menandai pergeseran cara manusia memahami dan merekayasa eksistensinya. Gagasan transhumanisme yang dipelopori Ray Kurzweil menjadi salah satu wacana sentral dalam arus perubahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan konsep hakikat diri, kesadaran, dan keselamatan dalam pandangan transhumanisme Kurzweil dan Buddhisme Mahāyāna. Data dikumpulkan melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya utama Kurzweil dan teks-teks otoritatif Mahāyāna, terutama Mūlamadhyamakakārikā, dan dianalisis dengan teknik analisis komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurzweil memandang diri sebagai pola informasi yang dapat disalin, kesadaran sebagai hasil emergen pemrosesan digital, dan keselamatan sebagai keberlanjutan eksistensi melalui mind uploading. Sementara Mahāyāna melihat diri sebagai kosong dari esensi (śūnyatā), kesadaran sebagai arus non-substansial (vijñāna), dan keselamatan sebagai pembebasan dari keterikatan melalui pencerahan. Meskipun keduanya sama-sama mengusung semangat transformatif, pendekatan Kurzweil bersifat teknologis-material, sedangkan Mahāyāna bersifat kontemplatif-eksistensial. Penelitian ini menyiratkan pentingnya membangun dialog kritis antara filsafat teknologi dan tradisi spiritual sebagai bekal menavigasi masa depan kemanusiaan.
References
Garfield, J. L. (1995). The Fundamental Wisdom of the Middle Way: Nagarjuna’s Mulamadhyamakakarika.
Kurzweil, R. (2000). The Age of Spiritual Machines: When Computers Exceed Human Intelligence. Penguin Books.
Kurzweil, R. (2005). The Singularity Is Near: When Humans Transcend Biology. Viking Adult.
Kurzweil, R. (2012). How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed. Viking Adult.
Lin, C.-T. (2023). All about the Human: A Buddhist Take on AI Ethics. Business Ethics, the Environment & Responsibility, 32(3). Retrieved from https://doi.org/https://doi.org/10.1111/beer.12547
Manyika, J., Lund, S., Chui, M., Bughin, J., & Woetzel, L. (2024). Jobs lost, jobs gained: What the future of work will mean for jobs, skills, and wages. Retrieved June 16, 2025 from New York: https://www.mckinsey.com/featured-insights/future-of-work/jobs-lost-jobs-gained-what-the-future-of-work-will-mean-for-jobs-skills-and-wages
Matis, G. (2022). Brain-Computer Interface (BCI) and Neuromodulation: Is There a Intersection? Neuromodulation: Technology at the Neural Interface, 25(7), S181–S182. Retrieved from https://doi.org/10.1016/J.NEUROM.2022.08.203
Schlieter, Jens. (2022). Buddhism and Bioethics. Retrieved from https://doi.org/https://doi.org/10.1093/acrefore/9780199340378.013.970
Setyawan, A. D. (2021). Nilai-nilai Buddhisme Dalam Tradisi Wagean Masyarakat Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia. Patisambhida: Jurnal Pemikiran Buddha Dan Filsafat Agama, 2(1).
Verma, A. (2024). Buddhism and the Environmental Crisis in the Period of Globalization: A Study of Mahayana Buddhism and Environmental Ethics. Archaeology and Architecture, 3(2), 199–204.
Widodo, H., & Sunarti. (2024). Ritual Ibadah Umat Buddha Mahayana di Kabupaten Jepara. Patisambhida: Jurnal Pemikiran Buddha Dan Filsafat Agama, 5(2), 76. Retrieved from https://doi.org/10.53565/patisambhida.v5i2.1216
Williams, P. (2009). Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations (2nd ed.). London: Routledge.
Zheng, Y. (2024). Buddhist Transformation in the Digital Age: AI (Artificial Intelligence) and Humanistic Buddhism. Religions, 15(1). Retrieved from https://doi.org/10.3390/rel15010079
DOI :
https://doi.org/10.53565/patisambhida.v6i2.1875









.png)
1.png)
