REPRESENTASI MAKNA SIMBOLIK PADA TRADISI TAKIRAN DAN RELEVANSINYA DENGAN NILAI-NILAI VIRATI CETASIKA (Studi Kasus di Vihara Dhamma Tirta Mulia Desa Karangrejo Kecamatan Garum Kabupaten Blitar)

  • Novi Sutri Novia STAB NEGERI RADEN WIJAYA
Keywords: Kata Kunci: Makna Simbolik, Tradisi Takiran, Virati Cetasika

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik tradisi Takiran, fungsi, serta menganalisis hubungan tradisi Takiran dengan Virati Cetasika. Subjek penelitian yang digunakan adalah umat Buddha Vihara Dhamma Tirta Mulia Desa Karangrejo Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi serta menggunakan instrumen wawancara. Teknik analisis data menggunakan trianggulasi data. Hasil penelitian yang diperoleh adalah makna simbolik dari Takir, doa, dan Kajad menyimbolkan persatuan, kerukunan, dan kebersamaan. Fungsi tradisi Takiran yakni: sarana mengenal, mempraktikkan, dan melestarikan budaya lokal, pattidana, peningkatan keyakinan, toleransi, dan mewujudkan Virati Cetasika. Relevansi tradisi Takiran terdapat dalam delapan tahapan yakni: pembuatan Takir, mempersiapkan isi Takir, penataan Takir di samping altar vihara, peletakan Takir di altar vihara, puja bakti perayaan hari besar keagamaan Buddha, meditasi dan dhammadesana, pembagian Takir kepada umat Buddha serta masyarakat lingkungan, dan ramah tamah yang dilakukan oleh umat Buddha.

 

Published
2020-08-06