http://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/issue/feedSabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya2026-01-19T11:04:43+00:00Agus Subandiuppalasubandi@gmail.comOpen Journal Systems<p align="justify"><img src="/public/site/images/junaidi/pageHeaderLogoImage_en_US.jpg">SABBHATA YATRA (<strong><a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1586307403&1&&">e-ISSN: 2745-5513</a></strong>) : Jurnal Pariwisata dan Budaya merupakan Jurnal yang memiliki ruang lingkup Pariwisata dan Budaya yang diterbitkan oleh Asosiasi Dosen Raden Wijaya bekerja sama dengan Unit Penenelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. SABBHATA YATRA : Jurnal Pariwisata dan Budaya terbit setiap semester pada bulan Juli dan Desember. Setiap terbitan berisi minimal 10 Naskah Jurnal dengan standar penulisan berdasarkan pedoman penulisan Jurnal.</p>http://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2268SUBSTITUSI EDAMAME DALAM PEMBUATAN PASTA ISIAN PRODUK KUE TRADISIONAL ONDE-ONDE 2025-12-22T23:49:29+00:00Joshua Magnus Alvarojoshuamgnalvro06@gmail.comAgung Arif GunawanAgung@btp.ac.idRosie Oktavia Puspita Rinirosie@btp.ac.idHeri Nuryantoheri@btp.ac.id<p>Onde-onde adalah salah satu jenis kue tradisional yang berasal dari Indonesia. Kue ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal, serta rasa yang sedikit manis dan gurih karena didalamnya terdapat isian kacang hijau yang dicampur dengan santan. Biasanya, onde-onde dibuat dengan menggunakan tepung ketan sebagai bahan utamanya, sehingga adonannya menjadi kenyal karena mengandung zat amilopektin yang tinggi. Seiring berjalannya waktu, onde-onde mengalami beberapa inovasi seperti isian coklat, kacang merah, dan lain sebagainya. Dalam penelitian ini, peneliti membuat substitusi isian onde-onde dengan menggunakan kacang edamame. Metode penelitian ini melibatkan pembuatan onde-onde dengan variasi substitusi edamame sebanyak 20%, 40%, dan 60% sebagai pengganti kacang hijau. Parameter yang dianalisis mencakup tekstur, warna, serta uji organoleptik (rasa, aroma, tekstur, dan kesan keseluruhan) yang kemudian dihitung tingkat kesukaan terhadap produk A, B, dan C. Hasil uji hedonik menunjukkan adanya tingkat kesukaan terhadap rasa dan tekstur. Namun, pada uji mutu hedonik yang dilakukan oleh panelis terlatih terdapat perbedaan nyata pada warna dan tekstur.</p>2025-12-22T23:39:43+00:00Copyright (c) 2025 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2130INOVASI COKELAT TRUFFLE DENGAN JAMBU BIJI LOKAL SEBAGAI CAMILAN SEHAT2025-12-23T00:10:32+00:00Selly Sellysellyyeo1@gmail.comRosie Oktavia Puspita Rinirosie@btp.ac.id<p><em>The growing trend of a healthy lifestyle has encouraged food innovation utilizing local ingredients with high nutritional value. This study aims to develop chocolate truffles made from local guava as an alternative healthy snack. A quantitative experimental method was employed through hedonic and hedonic quality tests on attributes of color, aroma, texture, and taste, involving 10 trained panelists and 20 untrained panelists. The assessment results revealed the level of preference as well as significant differences among three product formulations containing 30%, 45%, and 60% guava. These findings highlight the potential of guava-based chocolate truffles as a nutritious healthy snack while supporting the utilization of local agricultural commodities. </em></p>2025-12-23T00:09:07+00:00Copyright (c) 2025 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2230KESIAPAN INFRASTRUKTUR DAN AKSESIBILITAS TERHADAP DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN WISATA ALAM BERKELANJUTAN DI KECAMATAN BONE2026-01-06T14:23:47+00:00Sry Ayu Kainokainorahayu@gmail.comSri Maryatisri.maryati@ung.ac.idDaud Yusufdaud@ung.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan infrastruktur dan aksesibilitas terhadap daya dukung lingkungan dalam pengembangan wisata alam berkelanjutan di Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta kuesioner kepada pengunjung, masyarakat, dan pemerintah desa. Analisis dilakukan menggunakan pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) yang dimodifikasi sesuai fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan tiga objek wisata yang dikaji, yaitu Pantai Taludaa, Kolam Bidadari, dan Air Terjun Ilohuuwa, memiliki tingkat kesiapan berbeda. Kolam Bidadari memperoleh skor tertinggi (3.150 atau 80%) dengan kategori <em>Sangat Siap dan Berkelanjutan</em> berkat kondisi lingkungan alami, aksesibilitas baik, dan ketersediaan air bersih. Sementara Pantai Taludaa (2.735; 69%) dan Air Terjun Ilohuuwa (2.750; 70%) termasuk kategori <em>Cukup Siap namun Memerlukan Penguatan</em> terutama pada aspek infrastruktur dan fasilitas penunjang. Secara umum, daya dukung lingkungan ketiga lokasi masih baik dan berpotensi dikembangkan dengan pendekatan konservasi serta partisipasi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola wisata diperlukan untuk menyeimbangkan pembangunan dan pelestarian lingkungan menuju destinasi ekowisata unggulan.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2287STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA UNTUK MENINGKATKAN KUNJUNGAN WISATAWAN DI HUTAN PINUS MALINO KABUPATEN GOWA2026-01-06T14:35:22+00:00Aprina Marianaaprinamariana99@gmail.comI Gusti Ngurah Widyatmajawidyatmaja@unud.ac.idI Gusti Putu Bagus Sasrawan Manandagusmananda@unud.ac.id<p>Penelitian ini menganalisis strategi pemasaran pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Daya Tarik Wisata Hutan Pinus Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Penelitian difokuskan pada tiga tujuan, yaitu mengidentifikasi kondisi pemasaran yang berjalan saat ini, menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pemasaran destinasi, serta merumuskan strategi pemasaran yang relevan dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan <em>mixed method</em> dengan penggabungan data kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan matriks IFAS, EFAS, IE, dan SWOT untuk menghasilkan alternatif strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama destinasi terletak pada keindahan alam, suhu sejuk, lokasi strategis, dan ragam aktivitas wisata. Kelemahan meliputi promosi digital yang belum optimal, variasi produk wisata terbatas, serta fasilitas penunjang yang belum merata. Peluang berasal dari tren wisata alam dan dukungan pemerintah daerah, sedangkan ancaman mencakup persaingan antar destinasi serta fluktuasi kunjungan pada musim sepi. Analisis matriks IE menempatkan Hutan Pinus Malino pada kuadran V <em>“Hold and Maintain”,</em> yang menekankan strategi pengembangan produk, peningkatan promosi digital, kolaborasi multipihak, serta penyelenggaraan event pada periode <em>low season</em>. Temuan ini memberikan acuan strategis bagi pengelola dan pemerintah daerah dalam memperkuat pemasaran destinasi secara berkelanjutan.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2091PERAN SEORANG WAITER/WAITRESS DALAM MENANGANI KOMPLAIN TAMU DENGAN METODE ILEAD DI SKYLINE RESTAURANT GUMAYA TOWER HOTEL SEMARANG2026-01-06T15:15:47+00:00Amanda Putri Auliaazwaputrimadina@gmail.comTitik AkiriningsihAi_RienNha82@yahoo.comDenny AsmaraAsmaradenny971@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran <em>waiter</em> atau <em>waitress</em> dalam menangani komplain di <em>Skyline</em> <em>restaurant</em> Gumaya Tower Hotel Semarang. Pelayanan yang baik tidak hanya berkaitan dengan kecepatan penyajian makanan dan minuman, tetapi juga kemampuan karyawan dalam merespon sebuah keluhan dengan cepat tepat. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>waiter</em> atau <em>waitress</em> memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjaga kepuasan tamu, sehingga metode-metode penanganan komplain sangat diperlukan salah satunya penggunaan metode <em>ILEAD</em>, dengan menerapkan teknik komunikasi yang efektif, sikap ramah, dan penyelesaian masalah yang cepat dapat mengubah persepsi negatif tamu terhadap pelayanan yang diberikan.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2161ANALISIS PENANGANAN KELUHAN OLEH FRONT DESK HOTEL FOUR POINTS BY SHERATON BATAM2026-01-06T15:22:30+00:00Fangesti Anindya Nareshwarippangesti5@gmail.comTitik AkiriningsihAi_RienNha82@yahoo.comAfrilia Elizabet Sagalaafriliaelizabetsagala@stpsahidsurakarta.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis keluhan yang disampaikan tamu kepada <em>front desk</em> serta menelaah strategi yang diterapkan dalam penanganannya di Hotel Four Points by Sheraton Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara semi-terstruktur dengan empat responden yang terdiri dari satu orang <em>supervisor</em> dan tiga staf <em>front desk</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluhan tamu umumnya berkaitan dengan fasilitas kamar, variasi menu sarapan, serta lingkungan sekitar hotel. Sebagian besar keluhan disampaikan secara langsung kepada staf, sehingga dapat segera ditindaklanjuti. Strategi penanganan dilakukan dengan menerapkan tahapan <em>ILEAD (Identify, Listen, Empathize, Apologize, Decide)</em> yang secara konsisten dijalankan sesuai dengan standar operasional prosedur hotel. Penerapan tahapan tersebut terbukti efektif dalam mengurangi ketidakpuasan dan menjaga reputasi positif hotel. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan perbaikan terhadap fasilitas hotel yang sering mengalami gangguan, seperti unit pendingin ruangan dan perangkat elektronik di dalam kamar, guna meminimalisasi potensi keluhan tamu di masa mendatang.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2214MANAJEMEN DESA WISATA PEKUNDEN DALAM RANGKA MENINGKATKAN PADes (STUDI KASUS DI KAMPOENG NOPIA MINO)2026-01-07T07:22:51+00:00Anisa Wulandariwulandarianisa2584@gmail.comAtik Indrianaindrianaatik@gmail.comSalsanadhifa Elita P. Budiyantos.dipaelita06@gmail.comPutri Sofwatul Laeliputryslaeli@gmail.com<p><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Bahasa Indonesia: Saat ini, pengembangan desa wisata menjadi upaya utama desa-desa di Indonesia untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya. Salah satu desa wisata di Kabupaten Banyumas yang telah mendapat pengakuan nasional adalah Desa Wisata Pekunden. Desa ini memiliki berbagai daya tarik, salah satunya adalah Kampoeng Nopia Mino, daya tarik unggulannya. Kekuatan daya tarik ini disebabkan oleh proses manajemen yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami proses manajemen Kampoeng Nopia Mino dalam meningkatkan pendapatan asli daerah di Desa Pekunden. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan interpretasi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen Kampoeng Nopia Mino sebagai daya tarik di Desa Wisata Pekunden adalah sebagai berikut. (1) Proses perencanaan dijalankan dengan baik, meskipun belum optimal. (2) Memiliki struktur organisasi yang jelas, dengan penerapan model hexahelix. (3) Kegiatan manajemen berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. (4) Proses pengawasan melibatkan masyarakat melalui pertemuan rutin untuk mengevaluasi manajemen. Keberadaan Kampoeng Nopia Mino diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kelompok kerja lain di Desa Wisata Pekunden, sekaligus mendorong upaya optimal dalam pengelolaannya untuk mewujudkan visi jangka panjang.</span></span></em></p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2129IMPLEMENTASI HACCP PADA PENGOLAHAN SALAD DI MESSHALL PT. AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA2026-01-07T08:17:57+00:00Tanzilal Fitritanzilalfitri28@gmail.comAgus Solikhinagussolikhin81@gmail.comAlip Surotoalips.culinary@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dalam pengolahan menu salad untuk menjamin keamanan pangan di Messhall Townsite PT. Amman Mineral Nusa Tenggara. Salad dipilih sebagai objek penelitian karena menggunakan bahan baku berupa sayuran segar tanpa proses pemasakan, sehingga berisiko tinggi terhadap kontaminasi mikrobiologis, kimia, dan fisik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas data diperkuat menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi bahaya pada setiap tahapan proses, mulai dari penerimaan bahan, pencucian, pemotongan, sanitasi peralatan, higiene pekerja, penyimpanan, hingga penyajian. Titik Kendali Kritis (CCP) yang ditetapkan meliputi pencucian bahan, sanitasi peralatan, penerapan higiene personal, serta penyimpanan produk jadi pada suhu ≤5°C. Pemantauan dilakukan menggunakan formulir harian dan evaluasi rutin oleh tim Quality Assurance (QA) serta Health, Safety, and Environment (HSE). Penerapan HACCP terbukti efektif dalam menekan risiko kontaminasi, menjaga kualitas produk, dan meningkatkan kepuasan konsumen. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan HACCP pada pengolahan makanan berbasis bahan segar untuk menjamin keamanan pangan di fasilitas layanan makanan berskala industri.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: HACCP, salad, keamanan pangan, Messhall, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2271STRATEGI PENGEMBANGAN UMKM DALAM MENDUKUNG PARIWISATA BERKELANJUTAN DI DESA SEPUTIH, KABUPATEN JEMBER2026-01-14T07:36:46+00:00Firda Diartikafirda_diartika@polije.ac.idUystka Hikmatul Kamiliyah NHuystka.hikmatul@polije.ac.idMilawaty Milawatymilawaty@polije.ac.idHablana Rizkahablana@polije.ac.idLely Dian Utamilely.dian@polije.ac.id<p>Seputih Village, located in Mayang District, Jember Regency, is an emerging sustainable tourism village that possesses natural and cultural tourism potential, supported by six leading MSMEs: teak wood crafts, rattan crafts, cassava chips production, coffee processing, tobacco packaging, and roasted peanut production. This study aims to identify the spatial distribution of these leading MSMEs and formulate development strategies to support sustainable tourism. The data analysis methods employed include spatial analysis using QGIS (Quantum Geographic Information System) to map the distribution of MSMEs. Furthermore, SWOT analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, & Threats) was conducted to identify internal and external factors, followed by a QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) analysis to objectively determine priority development strategies. The results indicate that the leading MSMEs in Seputih Village are concentrated in two hamlets: Pandean and Tetelan. Based on the SWOT and QSPM results, the selected development strategies include an S–O strategy comprising capacity building for production and digital promotion based on local potential, followed by a W–O strategy consisting of innovation training and product certification. Priority strategies are directed toward strengthening digital branding, enhancing product innovation, and fostering cross-sector partnerships to expand market access and establish a competitive creative economy ecosystem.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1820MAKNA SOSIAL DAN FUNGSI RITUAL PERLON BAGI KOMUNITAS TRAH BONOKELING, DESA PEKUNCEN, KABUPATEN BANYUMAS2026-01-15T02:23:09+00:00Tania Ridi Putri Mentaritaniaridi96@gmail.comAisha Cahyarani Nabilaaishacnbl@gmail.comNaelu Salamahnaeluslmh@gmail.comFajar Widiantofajarwidiant46@gmail.comMuhammad Firmansyah Nuradhamozzakucing55@gmail.comPuri Septiana Nursetiyawatipuryseptyana19@gmail.com<p>This article discusses the meaning and function of Perlon ritual in Bonokeling lineage in Pekuncen village, Banyumas Regency. This research aims to understand the cultural values contained in Perlon ritual and its social function in strengthening solidarity among Bonokeling or non-Bonokeling lineage members. The research method used is qualitative method. Data collection techniques used in-depth interviews and documentation. The technique of determining informants used snowball sampling technique with a total of six informants. The results showed that the Perlon ritual has a function and meaning in each element performed by the Bonokeling lineage in carrying out the Perlon ritual. In addition, Perlon rituals can also affect social relations between Bonokeling and non-Bonokeling lineages in Pekuncen village, as well as the challenges faced by Bonokeling lineage in carrying out Perlon rituals. </p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2157SENTUHAN NILAI NILAI CULTURAL TIONGHOA PADA SEMANGKUK TIMLO SOLO2026-01-15T02:45:58+00:00Agung Wibiyantoagungadrianus@gmail.comIchwan Prastowoichwanprastowo@poltekindonusa.ac.idWahyu Tri Hastiningsihwahyutri@poltekindonusa.ac.idNawangsih Edynna Putrinawangsih.edynna@poltekindonusa.ac.id<p>Tujuan dari penulisan artukel ini ialah untuk mengulas sentuhan nilai nilai Cultural Tionghoa pada menu Timlo Solo. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan analisis deskriptif dengan studi kepustakaan. Hasil dari artikel ini nilai keotentikan Tionghoa di dalam menu Timlo ini ialah di bahan bahan dasarnya seperti bunga sedap malam kering, telur pindang, soun, jamur kuping kering yang memang memiliki nilai nilai simbolis pada budaya Tionghoa seperti halnya energi positif baik itu kesehatan dan juga kemakmuran. Sementara itu, Timlo sendiri juga terinspirasi dengan sup, di mana sup ini juga merupakan salah satu identitas Tionghoa khususnya mengingatkan pada menu olahan sup yang ada di Shandong yang dipadukan dengan sup Guangdong/Canton yang memang memiliki citra rasa rempah yang kuat dan selalu menggunakan bunga sedap malam kering di dalam bahan baku pengolahan sup itu sendiri. Tidak hanya itu saja, jika melihat dari teknik memasaknya,Timlo sendiri juga tidak lepas dari metode memasak ala Tionghoa yakni untuk red stewing, perebusan dan braising. Ketiga metode tersebut memang bisa diterapkan di dalam mengolah menu produk timlo hanya saja di dalam red stewing tidak ditampilkan warna khas merahnya mengingat kuat timlo ialah bening dan tidak ada permainan warna di dalam produk tersebut merupakan perpaduan dari sup dan soto</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1859DARK TOURISM SEBAGAI ALTERNATIF WISATA EDUKATIF: A LITERATURE REVIEW2026-01-14T21:26:44+00:00Mega Wulandarimgwlndry@gmail.comRahmi Ariani Salamrahmiarianisalam@gmail.comWaode Alma Syafiraalmasyafiraaaa@gmail.com<p>Dark tourism merupakan jenis pariwisata baru yang mulai mendapat perhatian dalam dekade terakhir. Dark tourism merupakan bentuk pariwisata yang berfokus pada kunjungan ke lokasi-lokasi yang memiliki sejarah tragedi, bencana, kematian dan peristiwa memilukan lainnya. Secara konseptual, dark tourism dapat menjadi sarana edukasi yang mampu menanamkan nilai-nilai sejarah dan kemanusiaan. Dark tourism sebagai wisata edukatif dapat memperluas wawasan pengunjung tentang isu-isu global. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji berbagai studi sebelumnya mengenai dark tourism dalam konteks wisata edukatif melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dan diperoleh tiga puluh sembilan karya-karya ilmiah terpublikasi melalui Google Scholar, ScienceDirect, Taylor & Francis, serta situs-situs jurnal nasional lainnya, dengan kata kunci dark tourism, dark tourism dalam lingkup wisata edukatif, educational tourism, dark tourism and education, dan experiential tourism education. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari berbagai bentuk situs dark tourism, museum merupakan kategori edukatif yang paling umum ditemukan karena secara langsung menyajikan informasi sejarah dan narasi tragedi. Kategori lainnya mencakup bekas medan pertempuran, taman dengan nilai sejarah, kamp konsentrasi, lokasi pemakaman yang telah direkonstruksi, bekas penjara, patung peringatan, hingga kawasan seperti pulau lumpur berfungsi sebagai sarana pembelajaran kuat pada situs-situs dark tourism.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1707 THE ROLE OF THE DIGITAL ECOSYSTEM IN INCREASING THE COMPETITIVENESS OF THE SERVICE INDUSTRY TOURISM (CASE STUDY OF KERATON KASUNANAN SURAKARTA)2026-01-15T02:26:36+00:00Nova Yudha Andriansyah PutraNova.noy@nusamandiri.ac.id<p>The development of the digital ecosystem plays some crucial role in enhancing the competitiveness of the service industry, especially in tourism. This study explores the impact of the digital ecosystem on the competitiveness of the Keraton Kasunanan Surakarta, a key historical and cultural tourism destination in Indonesia. Through with qualitative case study approach, in this research identifies the strategies and digital tools that have been implemented by Keraton Kasunanan Surakarta to enhance visitor experience, expand market reach, and improve operational efficiency. The findings suggest that digital platforms, such as social media, websites, and online booking systems, have significantly contributed to the promotion of Keraton Kasunanan Surakarta as a world-class tourism destination.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2167ZONASI WISATA SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA DI PANTAI WEDIOMBO GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA2026-01-18T14:45:36+00:00Rizky Maulanarizkymaulana@stipram.ac.idSuswantosuswanto@stipram.ac.idHalim Ahmadhaleem.trbl21@gmail.comHesti Purwaningrumhesti@stipram.ac.id<p>Wediombo Beach is situated in Java's southern coastline region, which is vulnerable to earthquakes and tsunamis due to a subduction zone at the Indian Ocean's bottom. Therefore, in order to achieve a balance between economic utilization and the protection of natural resources, as well as a shared commitment to safety from potential disasters, proper zoning management is required for the management and development of Wediombo Beach tourism based on disaster mitigation. The research methodology used for this study was descriptive qualitative. A variety of techniques, including focus group discussions (FGDs), in-depth interviews, and mini-surveys (observation), were used to gather primary data. According to the study's findings, Wediombo Beach's geological distinctiveness and variety of attractions make it a strong point for tourism development. The beach's location in a disaster-prone area, however, calls for mitigating measures, such as zoning to guarantee that tourism may proceed without jeopardizing crucial elements of visitor safety.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/2135DIVERSIFIKASI ATRAKSI GOA SELARONG SEBAGAI DESTINASI WISATA PILGRIM TANAH MATARAM GUWOSARI YOGYAKARTA2026-01-18T15:02:40+00:00Aguk Irawanaguk@stipram.ac.idSiti Noor Ainiainoen@stipram.ac.idHalim Ahmadhaleem.trbl21@gmail.comHesti Purwaningrumhesti@stipram.ac.id<p><em>Article 31 of Law Number 13 of 2012 respecting the Special Status of the Special Region of Yogyakarta contains provisions pertaining to cultural preservation and development initiatives, one of which is the growth of culture-based tourism. Selarong Cave, located in Guwosari Village, is strongly linked to Prince Diponegoro's battle. These cultural and historical artifacts have the potential to be transformed into a tourist destination that is packaged as a pilgrimage tourism idea. Finding the potential and preparedness of supporting infrastructure for the growth of pilgrimage tourism in Tanah Mataram Guwosari Village is the goal of this study. This study employs a qualitative research methodology, and its findings are presented in a descriptive manner. The government, the community, tourists, and tourism management components are among the research participants. Because of the Selarong Cave object's religious and symbolic value, authenticity, historical and cultural appeal, and highly capable natural environmental support, the research findings suggest that pilgrimage tourism may be a viable alternative for sustaining the fervor of tourism activities. It is necessary to upgrade the facilities for pilgrimage tourism-specific activities.</em></p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1882PEMASARAN PRODUK UMKM BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA WISATA BULUH AWAR KABUPATEN DELI SERDANG SUMATARA UTARA2026-01-19T02:54:40+00:00Deafani Clara Sinagadeafany@gmail.com<p>Desa Wisata Buluh Awar salah satu desa wisata yang ada di kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Desa wisata ini memiliki keunggulan sebagai lokasi wisata rohani khususnya bagi umat kristiani suku karo di sumatera utara. Sumber daya alam yang terkenal di desa ini adalah tanaman pohon aren atau nira. Produk UMKM nya adalah Gula Aren, Gula Semut, Gula Tualah, Gula Aren Cair dan kerajinan bambu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pengumpulan data melalui wawancara dan observadi. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan media digital dan tantangan pengembangan UMKM berbasis potensi lokal di Desa Wisata Buluh Awar. Hasil menunjukkan penggunaan media digital belum optimal karena keterbatasan pengetahuan dan sumber daya manusia. UMKM menghadapi kendala dalam inovasi produk, kemasan, branding, dan pemasaran digital, serta terbatasnya akses modal dan manajemen usaha yang lemah. Produk olahan pohon aren masih bergantung pada metode tradisional dengan kualitas yang kurang konsisten. Untuk meningkatkan daya saing, diperlukan penguatan kualitas produk, distribusi yang terintegrasi, serta strategi promosi berbasis kearifan lokal dan pemberdayaan pelaku usaha.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong> : Desa Wisata, Produk UMKM, media digital, pemasaran digital, kearifan lokal.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1746ANALISIS DAMPAK KUNJUNGAN MUSEUM BENTENG VREDEBURG TERHADAP PEMAHAMAN WISATAWAN TENTANG SEJARAH KOLONIALISME INDONESIA2026-01-19T03:32:32+00:00Desi Fanadesifanar@gmail.comAmelinda Jowanamelindajowan31@gmail.comRahma Putrirahmaputri7921@gmail.comPrihatnoprihatnoranujono@gmail.comHarry Hermawanharyhermawan8@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kunjungan ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta terhadap tingkat pemahaman wisatawan mengenai sejarah kolonialisme di Indonesia. Menggunakan pendekatan kuantitatif, studi ini membandingkan tingkat pemahaman sebelum dan sesudah kunjungan serta menguji hubungan antara frekuensi kunjungan, latar belakang pendidikan, dan minat terhadap sejarah. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 100 responden dengan teknik purposive sampling. Hasil uji korelasional menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan dan tingkat pemahaman sejarah (r = -0,018; p > 0,05). Sementara itu, uji Paired Sample T-Test menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam rata-rata pemahaman setelah kunjungan (sebelum = 3,89; sesudah = 3,12; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun kunjungan ke museum memberikan paparan terhadap informasi sejarah, hal tersebut belum secara efektif meningkatkan pemahaman pengunjung, kemungkinan karena kurangnya minat, keterbatasan penggunaan layanan pemandu, serta penyampaian informasi yang terlalu luas. Penelitian ini merekomendasikan optimalisasi strategi edukasi dan interaksi di museum untuk meningkatkan efektivitasnya sebagai media pembelajaran sejarah.</p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budayahttp://jurnal.radenwijaya.ac.id/index.php/sabbhata_yatra/article/view/1858DUPLIKASI WAYANG BEBER TAWANGALUN PACITAN2026-01-19T11:04:43+00:00wb_agoeshendriyanto Hendriyantorafid.musyffa@gmail.com<p><em>Wayang Beber Tawang Alun is an intangible cultural heritage typical of Pacitan, East Java, consisting of six scrolls with a total of 23 stories. Based on the candrasengkala “Gawe Srabi Jinamah Wong,” this artifact is estimated to have originated from 1614 Saka (1692 AD). Increasing age and physical vulnerability make the original artifact no longer suitable for use in performances. Therefore, this study aims to preserve and develop Wayang Beber through duplication activities, so that it can still be used as an educational and performance medium without damaging the original artifact. This study uses a qualitative descriptive method with the objects of study including the process of making daluang paper, sungging techniques, and dissemination of works. The results of the duplication of six replica scrolls show the effectiveness of a collaborative preservation strategy between local and national artists. Replicas not only maintain visual aspects and narrative values, but also become educational media that strengthen cultural identity and the regeneration of traditional art actors in a sustainable manner</em></p>2025-12-31T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Sabbhata Yatra: Jurnal Pariwisata dan Budaya